BONE, KOMPAK NUSANTARA.COM --Rektor IAIN Bone kembali mencatatkan sejarah buruk dalam kepemimpinannya! Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam MAPALA Petta To Risompae, SSB BSF, serta Segenap Aliansi Mahasiswa IAIN Bone lainnya turun ke jalan menuntut transparansi anggaran dan keterbukaan dokumen Rencana Kerja Tahunan (RKT).
Namun, alih-alih menjawab tuntutan mahasiswa, Rektor justru memilih tidak menampakkan dirinya, enggan menemui massa aksi, dan membiarkan birokrasi kampus berlindung di balik dalih rahasia!
Mahasiswa yang datang dengan itikad baik untuk meminta klarifikasi justru dipermainkan dengan kebohongan publik! Pihak kampus menyatakan bahwa dokumen RKT merupakan dokumen rahasia yang tidak bisa dipublikasikan.
Pernyataan ini jelas-jelas melanggar prinsip transparansi dan akuntabilitas yang seharusnya menjadi standar dalam pengelolaan perguruan tinggi.
"Jika RKT memang bersih, kenapa harus disembunyikan? Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak ingin mereka perlihatkan!" ujar salah seorang orator dalam aksi tersebut.
Dugaan Manipulasi Anggaran, Data Kampus
Tidak Sesuai dengan Aturan Kemenag
Dalam tuntutannya, mahasiswa mengungkap adanya kejanggalan besar dalam pemotongan anggaran kampus yang tidak sesuai dengan Surat Edaran Direktorat Jenderal Kementerian Agama. Berdasarkan surat edaran tersebut, pemotongan anggaran seharusnya mengikuti aturan berikut:
ï‚· BOPTN dipotong 50%
ï‚· PNBP dipotong 30%
ï‚· Pelayanan Perkantoran dipotong 60%
Namun, data yang disampaikan pihak kampus justru bertolak belakang dengan ketetapan ini! Kampus malah memotong anggaran PNBP jauh lebih besar, sementara anggaran Pelayanan Perkantoran yang seharusnya mendapat pemotongan terbesar justru tetap aman.
"Ini bukan sekadar kesalahan teknis, ini adalah bentuk penyimpangan anggaran yang sengaja dilakukan! Kampus harus bertanggung jawab dan menjelaskan dasar pemotongan yang mereka lakukan! Jangan sampai ini menjadi modus untuk mengamankan kepentingan pihak tertentu!" ujar salah seorang peserta aksi.
Rektor IAIN Bone Dituntut Bertanggung Jawab!
Sikap Rektor IAIN Bone yang memilih menghindar dari massa aksi semakin memperkuat dugaan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Seorang pemimpin yang bertanggung jawab seharusnya berani berdialog dan memberikan klarifikasi atas kebijakan yang diambil. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: Rektor memilih bungkam dan membiarkan mahasiswa menunggu dalam ketidakpastian.
"Hari ini kita menyaksikan bagaimana kampus yang seharusnya menjadi pusat intelektual justru berubah menjadi sarang kebohongan! Jika rektor tidak mampu menjelaskan persoalan ini secara transparan, maka dia tidak pantas memimpin IAIN Bone!" tegas Jenderal Lapangan Aksi, Rian Ade Saputra dalam orasinya.
Sementara itu, Koordinator Lapangan MAPALA, Andi Aldi Wahyudi menyatakan bahwa mahasiswa tidak akan berhenti sampai kejelasan didapatkan.
"Kami akan terus bergerak! Jika kampus tidak segera membuka dokumen RKT dan menjelaskan pengelolaan anggaran secara transparan, maka kami siap menggiring isu ini ke ranah yang lebih luas—media nasional, lembaga independen, hingga lembaga hukum!"
Koordinator Lapangan SSB BSF, Andi Matuppuan juga menegaskan bahwa aksi ini adalah peringatan bagi pihak kampus.
"Jangan anggap mahasiswa bisa dibungkam dengan kebohongan! Jika tuntutan kami tidak segera dipenuhi, maka kami akan kembali dengan gelombang aksi yang lebih besar, lebih luas, dan lebih keras!"
Mahasiswa Siap Menggiring Isu Ini ke KPK dan Ombudsman
Mahasiswa memberikan ultimatum kepada pihak kampus agar segera membuka dokumen RKT dan menjelaskan pengelolaan anggaran secara terbuka. Jika dalam waktu dekat pihak rektorat tetap bungkam, maka mahasiswa siap membawa isu ini ke tingkat nasional, bahkan ke ranah hukum!
"Kami akan pastikan ini sampai ke tangan Ombudsman, KPK, dan lembaga hukum lainnya! Jika kampus masih berkeras menutup-nutupi RKT, maka kami pastikan ini akan menjadi skandal nasional!" seru massa aksi.
Demonstrasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa IAIN Bone tidak akan diam terhadap segala bentuk manipulasi dan ketidaktransparanan di dalam kampus.
Transparansi adalah Hak! Pemimpin yang Tidak Bertanggung Jawab Harus Mundur!
Hidup Mahasiswa! Hidup Kebenaran
Jurnalis : Tubagus
0 Komentar